Laman

Minggu, 01 Juli 2018

KEUNIKAN SUKU TENGGER DAN GUNUNG BROMO

PESONA GUNUNG BROMO
DIANTARA LAUTAN PASIR DAN 
KEUNIKAN SUKU TENGGER.


Setelah beberapa tahun silam kami sekeluarga berlibur ke Gunung Bromo, kali ini liburan kami kembali menetapkan Destinasi Wisata Gunung Bromo sebagai tempat berlibur. Hanya saja, rute yang ditempuh dan tempat kami menginap yang berbeda. Jika liburan terdahulu, kami memilih Desa Wonokitri (Masuk wilayah Kabupaten Pasuruan) yang kami pilih.  maka liburan kali ini kami memilih Daerah Cemoro Lawang (Desa Ngadisari) yang masuk wilayah Kabupaten Bromo.

Sehari sebelum berangkat, kami menelusuri posisi, alamat & nomor telpon penginapan yang akan kami pilih di sekitar Cemoro Lawang, Probolinggo melalui Geogle Maps. Setelah posisi di dapat yaitu area dekat gardu pandang melalui Maps, maka mulailah pencarian alamat dan nomor telepon beberapa hotel dan penginapan di lokasi yang telah ditentukan posisinya. Setelah diperoleh nomor telepon, saya hubungi untuk menjajagi harga dan spesifikasi kamar dan fasilitasnya. Dari beberapa nomor telepon yang kami hubungi ada dua nomor telepon yang cocok dengan kriteria dan pilihan kami, lalu kami putuskan satu diantaranya, yaitu Bromo Indah Home Stay yang dikelola oleh Bapak Kirun, dengan nomor HP yang bisa dihubungi : 085 236 674 23. 



Kami sekeluarga berangkat dari Kecamatan Socah, Bangkalan pada hari Jum'at sekitar jam sepuluh siang. Kendaraan kami sempat mampir dan berhenti di Rest Area Gempol. Kami istirahat dan sholat Dhuhur dan Ashar (Dijamak Taqdim). Kami sampai di Cemoro  Lawang, Probolinggo sekitar jam 5 sore. Rute perjalanan kami kali ini yang melewati terminal Bayuangga Probolinggo dan tidak lewat Tongas Pasuruan memang kami sengaja memilih rute yang berbeda agar ada pengalaman baru dalam perjalanannya. Jalan dari arah terminal Bus Probolinggo sampai Kecamatan Sukapura cukup lebar dan bagus dengan aspal yang relatif mulus. Kondisi jalan yang bagus sampai di penginapan terdekat dengan lautan pasir.

Setelah perjalanan melewati Kantor Kecamatan Sukapura, pemandangan alam dengan menawarkan panorama perkebunan sayur mayus di sebelah kiri dan kanan jalan dan dengan latar belakang bukit dan rumah-rumah penduduk yang sangat menawan dipandang mata mengiringi perjalanan kami sampai di penginapan yang telah kami pesan sebelum berangkat dari Bangkalan.





Sejak dari Kantor Kecamatan Sukapura telah menunggu orang-orang dan tukang ojek yang menawarkan penginapan dangan harga kamar standar sekitar 150 - 250 per kamar. Sesuai dengan informasi dari Pak Kirun agar setiap kita ditawari penginapan agar menyampaikan kepada orang-orang tersebut kami sudah memesan kamar di Cemoro Lawang - Desa Ngadisari.

Sesampainya di penghujung rute di Desa Ngadisari kami menemui deretan rumah-rumah yang disewakan untuk penginapan dan beberapa hotel. Cemoro Lawang merupakan pemukiman penduduk yang berada di dataran tinggi yang cukup padat penduduknya dan tertata cukup asri sebagai sebuah kawasan desa wisata.


















Setelah merasa sudah cukup dekat dengan penginapan yang kami tuju sesuai petunjuk via telpon saya untuk yang terakhir kalinya menghubungi pengolela Home Stay dan dengan beberapa petunjuk sekedarnya kami menemukan Warung Pak Kirun yang telah sepakat sebelumnya menyediakan penginapan buat kami bermalam di Cemoro Lawang, Probolinggo.



Setelah meninjau beberapa pilihan penginapan yang ditunjukkan oleh istri Pak Kirun yang harga penginapan per kamar di musim liburan seperti ini adalah 200 ribu untuk kamar mandi di luar (tetapi masih di dalam rumah penginganapan) dan 250 ribu untuk kamar mandi dalam. Saya ambil 2 kamar yang kamar mandinya di dalam.

Sesaat setelah meletakkan koper dan barang kami ke dalam penginapan. Anak kami, Irham Fauzan Azizi mengambil gambar pemandangan di depan penginapan kami.

  

Mumpung matahari belum terbenam dan hari belum gelap, maka sebelum membawa koper dari mobil ke penginapan, saya dan anak-anak mencoba melihat pemandangan lautan pasir dan Gunung Bromo dari belakang Warung Pak Kirun.














Setelah istirahat sejenak dan sholat Maghrib (dijamak taqdim dg Sholat Isyak), saya dan beberapa anak ke luar penginapan menuju warung Pak Kirun yang berjarak sekitar 5 rumah dari penginapan kami. Kami memesan makanan untuk makan malam dan melihat pemandangan lautan pasir dengan gunung bromo di tengah-tengahnya dalam suasana malam. Warung Pak Kirun ini terletak di pinggir bukit yang bisa melihat pemandangan lautan pasir dan Gunung Batok maupun Gunung Bromo. Warung Bromo Indah adalah warung Pak Kirun. Kami berfoto-foto sejenak mengabadikan momen-momen indah,sambil menunggu istri Pak Kirun menyiapkan pesanan kami untuk makan malam.

Setelah membayar uang sewa kamar untuk satu malam saya juga memesan mobil Hartop yang akan mengantarkan kami ke Gunung Pananjakan untuk melihat matahari terbit esok paginya yang akan dilanjutkan ke laautaan pasir serta ke kaki ke Gunung Bromo, Bukit Teletubbies serta Pasir Berbisik. Dari tawar menawar saya dengan sopir Mobil Hartop disepakati harga 600 ribu sewa satu unit mobil untuk kami sekeluarga.

Setelah makan malam, saya dan anak-anak keluar penginapan lagi dan melihat-lihat suasana malam di sekitar penginapan, sekalian membeli sarung tangan untuk anak-anak dan topi penutup kepala dari dinginnya udara pegunungan yang amat dingin di musim kemarau seperti bulan juni ini. Puas melihat suasana malam, kami kembali ke penginapan. Dalam perjalanan kembali ke penginapan (jalan kaki) anak-anak sempat mencatat nomor telepon beberapa hotel yang berderet-deret di sepanjang jalan. Terlihat juga beberapa orang pengunjung seperti kami makan-makan makanan hangat seperti bakso, mie ayam dan jagung bakar di warung-warung yang dikelola penduduk setempat.

Kami segera istirahat karena nanti malam sesuai kesepakatan dengan sopir mobil sekitar jam 02.30 kami berangkat menuju Gunung Pananjakan untuk menikmati momen-momen matahari terbit. Jam 02,00 dini hari sopir mobil membangunkan kami untuk bersiap-siap. Selama menunggu anggota keluarga melakukan persiapan keberangkatan dari penginapan, saya mencoba menantang terjangan hawa dingin dengan membuka baju dan celana panjang dan mencoba keluar dari penginapan di depan teras penginapan dengan hanya memakai kaos singlet dan celana pendek. untuk beberapa saat yang kurang lebih setengah jam saya keluar masuk penginapan dengan hanya berkaos singlet dan celana pendek. Dengan komen-komen yang tidak biasa dari anggota keluarga, saya ingin tunjukkan bahwa dengan banyak bergerak, rasa dingin yang berlebihan seperti ini bisa sedikit dikurangi.



Dan sesuai kesepakatan, jam 2.30 WIB  kami berangkat dari penginapan. Kami berangkat agak awal untuk menghindari antrian mobil di tempat parkir yang tidak terlalu jauh berjalan kaki menuju tempat Gardu Pandang.

Dengan kecepatan sedang mobil yang kami tumpangi menelusuri bukit dan turun menuju lautan pasir yang gelap dan berkabut di tengah malam. Jarak pandang hanya sekitar tiga meter di depan mobil. Kabut cukup tebal. Sang Sopir menjalankan mobilnya hanya mengandalkan reflek dan penguasaan jalan yang telah diingatnya untuk menghindari lubang atau jalan berpasir yang tidak rata, sehingga membuat kami sebagai penumpang menjadi nyaman dalam perjalanan menuju jalur di bukit terdekat untuk merayap menuju puncak Gunung Pananjakan. Ini merupakan pengalaman pertama kami sekeluarga melakukan perjalanan malam yang dingin dan gelap berkabut tebal dengan hanya jarak pandang sekitar tiga meter saja. Kami menelusuri jalan berpasir dan diselimuti kabut tebal dengan diam seribu bahasa.

Setelah melewati lautan pasir dan tebalnya kabut, mobil mulai merayap menaiki bebukitan menuju Gunung Pananjakan. Setelah berada di atas bukit mobil kami mulai terbebaas dari balutan kaabut dan jarak pandang mulai jau ke depan mobil. Pemandangan kiri dan kanan mulai kelihatan sorotan lampu-lampu mobil yang menaiki bukit yang sama-sama menuju Gunung Pananjakan.

Dinginnya malam di atas puncak Gunung Pananjakan yang memiliki ketinggian 3.000 lebih di atas Permukaan Laut (DPL) merupakan dingin yang menusuk tulang. Apalagi bulan juni merupakan bulan kemarau yang suasana dingin di atas pegunungan bertambah dingin. Toilet umum yang berada sekitar 5 meter dari gardu pandang memberikan sensasi dingin yang lumayan luar biasa bagi yang sedang buang air kecil atau berwudu menjelang sholat Subuh. Tetesan airnya bagaikan air salju rasanya.

Setelah satu dua jam menunggu bersama puluhan pengunjung yang semua berjaket tebal, memakai sarung tangan dan penutup kepala, akhirnya di ufuk sebelah kiri kami mulai terlihat fajar menyingsing yang pelan namun pasti menampakkan sinar kuning - jingga dan keemasan menyeruak di balik bukit. Sementara Gunung Batok dan Gunung Bromo yang berada di depan kami mulai terlihat makin jelas di sela-sela sorotan mobil yang beriringan diselimuti kabut yang tak pernah beranjak pergi dari permukaan lautan pasir. Pemandangan yang indah. Mempesona. Karya Agung Sang Pencipta Alam semesta.








Setelah beberapa saat menanti, akhirnya sang mentari mengintip di balik bukit sebelah barat kami. Pemandangan yang tak sempat kami nikmati pada kunjungan kami beberapa tahun yang lalu. Karena saat itu musim penghujan di awal tahun, sehungga matahari tak dapat kami lihat sampai jam delapan pagi.

Sebelum meninggalkan lokasi, kami sengaja berfoto-foto beberapa waktu mengabadikan suasana indahnya pemandangan di sekitar gardu pandang. Matahari dengan sinaarnya yang kuning keemasan terasa indah menerpa wajah-wajah pengubjung yang mulai terlepas dari belenggu udara dingin.
























Setelah cukup mengabadikan momen-momen indah di Gardu Pandang Puncak Gunung Pananjakan, kami meninggalkan Gardu Pandang menuju Parkir Mobil. Sebelum naik mobil, kami sekeluarga bersama pak Sopir sarapan pagi di warung pinggir jalan dekat mobil parkir. Setelah sarapan pagi kami naik mobil hartop sewaan yang membawa kami menuruni bukit-bukit meninggalkan puncak Gunung Pananjakan.



Sesampainya kami di lautan pasir, kami meminta Pak Sopir menghentikan mobilnya untuk memberi kesempatan kepada kami sekeluarga untuk mengabadikan momen-momen yang indah di tengah-tengah lautan pasir dengan latar belakang bukit pegunungan Tengger.




















Setelah puas berfoto-foto di tengah lautan pasir, kamipun melanjutkan perjalanan ke tempat parkir mobil dan para pemandu kuda menunggu yang telah kami pesan lewat sopir mobil sebelumnya. Mungkin untuk kepentingan kenyamanan semua pihak, pemerintah setempat telah menetapkan batas parkir terdekat dari mobil - mobil hartop yang menghantar para wisatawan dengan memberi patok - patok pembatas dengan radius jarak tertentu dari kaki Gunung Bromo dan Pura tempat pemujaan suku Tengger melakukan ritualnya. Sebelum naik kuda anak-anak perempuan kami masih menyempatkan diri mengabadikan momen indah dengan berlatar belakang Gunung Batok.



















Sesuai kesepakatan antara saya dan sopir yang mencarikan sewaan kuda bahwa harga sewa per kuda adalah 100 ribu dan komisi untuk sang sopir sebesar 50 ribu untuk 7 ekor kuda. Masing-masing kuda dinaiki satu orang, kecuali kedua anak kami yang masih kecil naik berdua.



  


Perjalanan naik kuda dari tempat parkir mobil ke kaki gunung Bromo sekitar lima kilometer yang melewati hamparan pasir dan bukit-bukit kecil sebelum mencapai kaki Guning Bromo. Di tengah-tengah lautan pasir tersebut terdapat satu Pura tempat para penduduk suku Tengger melakukan ritual sesuai dengan keyakinannnya.

Sesampainya di kaki Gunung Bromo, perjalanan dengan kuda berakhir dan dilanjutkan dengan menaiki tangga sebanyak 250 undakan untuk mencapai bibir kawah Gunung Bromo. Pendakian dengan menaiki ratusan anak tangga tersebut merupakan upaya yang menguras banyak energi bagi kami sekeluarga. Untungnya, di tengah-tengah deretan anak tangga di sediakan beberapa tempat pemberhentian bagi pendaki yang ingin rehat sejenak sebelum melanjutkan lagi pendakiannya menuju bibir kawah Bromo.

   

Setelah anak-anak tiba lebih dulu di atas bibir kawah, barulah saya dan istri saya mencapai puncak bibir kawah, walaupun dengan terengah-engah. Kelelahan kami menaiki anak tangga terbayar setelah puas menikmati indahnya pemandangan dari puncak Gunung Bromo dengan memandang hamparan lautan pasir yang diselimuti kabut tipis dan puluhan atau mungkin lebih dari seratus mobil hartop yang parkir di tengah-tengah lautan pasir bagaikan semut yang bertebaran mengerubungi madu.

Kami berfoto-foto sejenak dengan latar belakang Gunung Batok di sisi kiri dan belakang kami.













Kami sempat bergidik hati tatkala melihat mulut kawah dengan suara magma yang menggelegar dari dasar kawah. Walaupun kami tak melihat magma yang membara secara langsung tetapi hati kami sempat menciut dan tanpa sadar merasakan Kebesaran Allah SWT yang menciptakan kawah ini dan segenap alam semesta yang besarnya tak terpikir oleh indera. Allahu Akbar.














Setelah hampir setengah jam berada di bibir kawah Bromo, kami kembali ke kaki gunung dengan menuruni tangga. Hampir sama dengan saat menaikinya, menuruni anak tangga yang jumlahnya ratusan tersebut juga perlu energi ekstra.

      

   

Sampai di kaki gunung kami segera menghampiri kuda - kuda sewaan yang sedang ditambatkan oleh pemandunya dan menaikinya untuk kembali ke mobil yang parkir seberang lautan pasir yang berjarak kurang lebih lima kilometer.

             

                

Sebelum kami meninggalkan arean parkir mobil, kami sempat mengabadikan momen - momen indah dengan berlatar belakang Gunung Batok yang foto - fotonya sudah termasyhur ke penjuru dunia tersebut.






















Puas menikmati pamandangan Gunung Bromo dan Gunung Batok, kami meninggalkan parkir mobil menuju Bukit Teletubbies yang berada di balik deretan Gunung Bromo - Tengger. Kami mengitari lautan pasir yang terhampar luas menelusuri padang rumput (Savana) yang sebagiannya dalam kondisi gersang karena musim kemarau. Berbeda dengan kunjungan kami beberapa tahun yang lalu yang terlihat sejuk indah menghijau karena kami datang di musim penghujan (Akhir Tahun).

Setelah sampai di sebelah selatan Gunung Bromo dan (mungkin) sudah masuk wilayah Kabupaten Lumajang kami sampai pada bukit - bukit yang hanya ditumbuhi rerumputan dan jarang tumbuh pepohonan. Bukit - bukit yang diselimuti padang rumput dan jarang ditumbuhi pepohonan inilah yang kemudian oleh penduduk setempat dipromosikan sebagai Bukit Teletubbies. Sebuah kawasan yang pemandangannya menyerupai bukit yang terkenal pada film kartun di televisi beberapa ntahun yang lalu, Teletubbies. Untuk menonjolkan ikon bukit yang diselemuti rerumputan inilah Pemerintah Daerah setempat telah memasang tembok dengan bertuliskan Teletubbies. Sebuah tembok yang baru dibikin untuk latar belakang berfoto - foto bagi wisatawan. Sebuah tembok yang baru dibangun beberapa tahun terakhir, karena pada kunjungan kami beberapa tahun yang lalu tembok ini belum ada.































Sebelum berfoto-foto, anak-anak langsung menuju toilet umum yang sekarang sudah disediakan toilet permanen di kawasan ini. Pada kunjungan terakhir kami beberaoa tahun yang lalu, toilet umum yang representatif seperti ini masih belum ada. Di kawasan yang jauh dari pemukiman penduduk ini, saat ini juga sudah tersedia warung - warung yang menyediakan makanan bagi pengunjung.

Setelah puas, kami meninggalkan kawasan Bukit Teletubbies menuju destinasi wisata terakhir di lautan pasir Gunung Bromo ini, yaitu Kawasan Pasir Berbisik. Hamparan lautan pasir yang mengitari Gunung Bromo, di sebelah timurnya terdapat bukit - bukit kecil yang diselimuti pasir dan beberapa hamparan pasir yang kalau diterpa angin mengeluarkan suara - suara yang berirama sesuai dengan cepat lambatnya angin dan keras lunaknya angin bertiup. Suara - suara yang kita dengarkan ketika berada ditengah - tengah hamparan pasir bagaikan orang bersiul, orang berbisik dan sebagainya tergantung masing - masing orang meng-asosiasinya.Di kawasan inilah beberapa tahun yang lalu pernah dijadikan lokasi pengambilan adegan film layar lebar yang berjudul "Pasir Berbisik" yang dibintangi artis - artis ibukota. Sejak itulah, salah satu kawasan di lautan pasir ini dikenal dan dipromosikan oleh warga setempat sebagai Destinasi Wisata Pasir Berbisik. Tapi sayang, kami sekeluarga hanya singgah sebentar di kawasan ini dan tidak turun dari mobil. Penyebabnya selain karena kecapean, juga karena alasan udara terlalu panas karena sudah terlalu siang. Kunjungan kami terdahulu, pada jam sepuluh - sebelas siang tidak terasa panas, karena saat itu adalah musim penghujan sehingga masih terasa dingin dan segar tidak kegerahan seperti kunjungan kali ini. Kendaraan yang kami tumpangi langsung menuju penginapan untuk beristirahat, shalat dan makan siang. Sekitar jam 10.00 kami sampai di penginapan.

Ada satu kejadian yang layak saya ungkapkan disini. Sesampainya kami di depan penginapan kami turun dari mobil. setelah selaesai menurunkan babaerapa barang seperti jaket, tas, peralatan dokumentasi (foto), tas berisi sisa makanan di perjalanan, saya pun membayar uang sewa mobil 600 ribu sesuai yang telah disepakati semalam. Setelah berbasa - basi sebentar sopirpun kembali menjalankan mobilnya meninggalkan kami yang juga meninggalkan tempat menuju penginapan. Setelah istirahat dan selesai makan siang, baru disadari bahwa tas anak saya yang berisi sejumlah uang, dan HP istri saya yang ditaruh di dalamnya, tidak ketemu. Setelah diingat-ingat, tas tersebut diletakkan di dalam mobil (tidak dibawah ke atas Gunung Bromo), sebelum kami sekeluarga naik kuda. Setelah sampai di penginapan pun, mobil sudah diperiksa saat mengambil barang - barang kami dan sebelum membayar uang sewa mobil. Kami meyakini, tas itu hilang di dalam mobil pada saat prkir selama kami meninggalkan mobil untuk naik ke Gunung Bromo. Kamipun pasrah. Saya tegaskan kepada anggota keluarga bahwa ini adalah ujian yang perlu disikapi dengan dewasa dengan perasaan ridha pada ketetapan Allah dengan merelakannya serta bertwakal kepada-Nya. Lalu, kami istirahat di penginapan. sebagian ada yang makan siang, ada yang shalat, ada yang tiduran santai, sebagian tidur terlelap dalam kecapeannya dan sebagian lagi berjalan - jalan di sekitar pengianapan menikmati pemandangan sekitar. Kami sepakat tidur siang dan akan bangun serta berangkat meninggalkan penginapan sekitar jam 15.00 sore.Pada saat kami tidur itulah pintu penginapan ada yang mengetuk. Ternyata yang mengetuk pintu adalah Pak Sopir mobil sewaan tadi. Dia memberitahukan bahwa saat membersihkan mobilnya ditemukan tas dibalik tempat duduk. Dia datang dalam rangka ingin mengembalikan tas tersebut kepada kami. Dengan gembira dan memberikan sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih kami bersalaman dan mengantarkan Pak Sopir ke depan penginapan. Setelah kami buka, sejumlah uang dan HP istri saya masih utuh dan lengkap.Terimakasih Yaa Rabb. Terimakasih pula kepada Pak Sopir dan Masyarakat Suku Tengger yang dengan keyakinan serta adat yang dipegangnya menjunjung tinggi kejujuran.

Sebelum meninggalkan penginapan, kami mengambil gambar indahnya pemandangan di depan penginapan kami. Cemoro Lawang, suatu kawasan wisata yang layak untuk dikunjungi dan dinikmati keindahannya. Dan yang tidak kalah pentingnya, keramah tamahan dan kejujuran masyarakatnya yang membuat kami betah dan ingin kembali lagi berkunjung kemari.

Bromo, tunggulah. Lain waktu, kami akan datang lagi. Insya Allah. Wahai masyarakat Tengger, terimakasih pelayanannya. Terimakasih keramahtamahannya. Semoga kita bisa berjumpa lagi........


Setelah meninggalkan penginapan dan sebelum melangkah pulang, kami sempatkan menuju "Seruni View Point" semacam Gardu Pandang yang dibangun oleh Pemerintah Setempat yang disediakan untuk wisatawan yang ingin melihat pemandangan Lautan Pasir dengan Gunung Bromo dan Gunung Batok di tengahnya, serta Gunung Semeru sebagai latar belakangnya. Disini kami tidak lama, cuma sekedar singgah sekitar sepuluh menit dan kembali turun meninggalkan Cemoro Lawang yang mempesona. 




Jakarta, 1 Juli 2018.


Juharto & Keluarga.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar