Laman

Senin, 26 Mei 2014


BROMO, Primadona wisata Jawa Timur

Perjalanan menuju Gunung Bromo dimulai dari Songgoriti, Kota Batu - Malang, setelah Sholat Dhuhur dengan kendaraan pribadi. Jalur yang kami pilih lewat pandaan menuju Nongkojajar. Perjalanan mengalami tanjakan sejak dari jalan raya pandaan. Sampai lewat Nongkojajar jalan tergolong beraspal mulus dan baik meskipun terus menanjak. Namun setelah melewati nongkojajar jalan mulai jelek karena sepanjang jalan jalanan berlubang meskipun masih melewati pemukiman penduduk dengan kebun apel di halaman rumah dan di ladang penduduk. Pemandangan yang mengundang selera untuk memetik dan mencicipi apel malang yang terkenal itu.



Setelah melewati desa terakhir jalan mulai naik turun dan berkelok-kelok. Sepanjang kurang lebih 4 - 7 km suasana mulai mencekam karena disamping rumah penduduk mulai jarang dan kendaraan pun sudah mulai sulit terlihat. Rupanya tanpa sepengatahuan kami, rute yang kami ambil adalah rute yang tergolong sepi dan menantang dan bagi pengemudi yang kurang pengalaman mungkin tergolong "cukup" berbahaya. Sekitar 3 km jalanan benar-benar berbahaya karena selain sepi dan di dalam hutan juga banyak jalan tanjakan curam dan belokan patah. Suasana dalam kendaraan benar-benar menegangkan bagi kami sekeluarga. Suasana ceria dan yang biasanya tidak lupa mengabadikan momen-momen indah di perjalanan tidak sempat kami lakukan karena saking tegangnya. Untung Pak Hamidi, sopir kami benar-benar pengalaman dan cukup tenang menghadapi kengerian jalan di tengah hutan. Kurang lebih setengah jam kami baru bisa bernafas lega setelah melewati hutan dan menemukan perkebunan dan pemukiman. 





Dari jauh kelihatan gapura Desa Ngadiwono. Ngadiwono mungkin semacam desa wisata dengan pemukiman penduduk dan tempat penginapan yang cukup rapi berderet-deret di atas bukit disamping kiri dan kanan jalan yang kami lewati. Suasana mulai cair dengan pemandangan yang sedap di pandang mata. Kami terus menelusuri jalan yang berkelok-kelok dan sedikit naik turun namun menyenangkan. Kami tidak berhenti disini karena telah memesan kamar/ home stay, lewat telepon di Desa Wonokitri. Sore hari kami sampai di home stay yang kami tuju. 

\]

Di Home Stay 'Bromo Surya Indah' kami menempati tiga kamar dengan tarif Rp. 350.000,- semalam. Pemilik penginapan rupanya juga menyediakan makan malam dan sarapan pagi dengan menu ikan ayam, tempe dan lalapan yang harganya lumayan bersahabat. Lewat pemilik penginapan pula kami memesan mobil hartop yang akan kami tumpangi dini hari menuju gunung pananjakan untuk melihat matahari terbit, melihat padang rumput (savana) dan bukit teletabis, serta menuju kaki gunung bromo. Tarif mobil Rp. 350.000,- untuk 7 orang penumpang. Habis shalat maghrib sampai sekitar jam 10 malam banyak pedagang asongan yang menawarkan kaos tangan, tutup kepala, baju hangat. Pakaian penahan dingin tersebut juga banyak dijual di warung-warung di sekitar penginapan, di samping juga berjualan makanan dan minuman atau kebutuhan sehari-hari. Anak dan istri masuk kamar dan tidur sekitar jam 20.00 setelah makan malam. Makin malam makin banyak pengunjung yang datang baik dalam rombongan kecil dengan motor dan mobil kecil maupun rombongan besar dengan bus.  Saya dan dua anak lelaki masih menikmati suasana dinginnya malam sampai jam 22.00 malam.


Malam-malam kami di bangunkan sekitar jam 02 dini hari. Hiruk-pikuk suara mobil hartop dan suara para pengunjung di halaman penginapan mulai terdengar ditengah dinginnya malam yang hujan gerimis dan dinginnya alam pegunungan. Beriringan mungkin sekitar 100 mobil hartop menuju Pananjakan. Sementara mobil pribadi dan sopir pribadi istirahat di halaman parkir penginapan. Sampai di Pannjakan menjelang shalat Subuh. Sebagian besar telah berkerumun di areal gardu pandang dan sebagian kecil pengunjung menunaikan shalat subuh secara bergantian di mushollah yang tidak terlalu luas ukurannya.



\

Lama menunggu mentari yang akan terbit, hawa dingin cukup menyiksa. Walaupun sudah memakai pakaian yang tebal dan rangkap ternyata tak sanggup menahan dinginnya pagi yang menusuk tulang. Si kecil Nabila dan Wildan tidur nyenyak walau wajahnya meringis kedinginan di pangkuan kami yang juga kedinginan. Pengalaman yang tak akan terlupakan. 

Menunggu tinggal menunggu. Yang ditunggu tak kunjung kelihatan. Langit berawan. Sampai siang terus berawan. Pengunjung mulai tak sabar. Sampai waktunya terbit pun matahari tak kelihatan. Sebagian pengunjung sudah mulai pada meninggalkan area pandang. Kami dan sebagian kecil masih setia menunggu. Entah apa yang ditunggu akan kelihatan, walau setelah siang. Sampai siang tak jua kelihatan. Awan setia menyelimuti horizon. Sampai langit terang. Kami pun pulang. Untuk menghibur diri anakku mengabadikan Gunung Semeru yang sempat mengintip di balik awan. Sesaat sebelum kembali tak kelihatan. Karena tertutup oleh awan. Dari para penjual asongan diperoleh informasi bahwa saat-saat musim hujan di awal bulan Januari biasanya matahari terbit sering terhalang. Oleh kabut atau awan. Gunung Bromo pun tak jua terlihat walau ditunggu sampai beberapa jam. Penantian yg membosankan, namun udara dingin yang  menusuk tulang tak akan pernah terlupakan.





Ditemani kabut kami meninggalkan area pandang Gunung Pananjakan menuju parkir mobil untuk meneruskan perjalanan menuruni bukit-bukit dan mengarungi padang pasir.



Hamparan lautan pasir yang disana-sini ditumbuhi rumput dan tanaman perdu. Sopir menawarkan sebelum menaiki gunung bromo, untuk menyempatkan melihat pemandangan padang rumput (savana) dan bukit teletabis dan bukit pasir yang pernah dijadikan lokasi shooting film pasir berbisik, dengan tambahan ongkos Rp. 100.000,- Kami bersepakat.








Melepas lelah setelah menikmati pemandangan padang rumput dan menaiki bukit teletubis serta menikmati pemandangan dari atas lereng bukit. Amboi, indah nian dipandang mata. Pemandangan indah ini hanya bisa dinikmati pada saat musim penghujan, karena pada musim kemarau hanya hamparan rumput kering kerontang dan kesan tandus yang dapat dilihat.





Makan bakso semangkok kiranya cukup memberikan kehangatan dalam suasana dinginnya hawa Bromo. Banyak pedagang bakso dan makanan ringan yang berjualan di sekitar lahan tempat mobil parkir di tengah-tengah padang rumput. Harganya pun tidak mencekik dan wajar. 














Bukit-bukit di sebelah timur Gunung Bromo ini hampir sebagian besar permukaannya ditumbuhi rumput sehingga kalau dilihat dari tengah padang akan nampak seperti Bukit Teletubis yang menjadi latar belakang film kartun di salah satu stasiun TV nasional. Sayang bagi pengunjung Gunung Bromo jika melewatkan pemandangan yang langka ini.








Setelah puas menikmati hamparan padang rumput nan hijau kami menyempatkan menaiki dan menikmati pemandangan bukit pasir. Bukit Pasir ini menjadi tempat lokasi shooting film 'Pasir Berbisik'. Tidak keliru jika crew film 'Pasir Berbisik' menjadikan tempat ini sebagai lokasi shooting filmnya. Kalau di padang rumput kami sekeluarga naik dan menikmati bukit teletubis maka untuk bukit pasir ini hanya anak-anakku yang naik dan menuruni beberapa bukit. Saya dan istri cukup memandang anak-anak naik - turun bukit dari kejauhan. Dari salah satu atas bukit yang cukup tinggi. Pemandangan yang lumayan bagus dan menyejukkan mata.








Naik kuda menuju dan  menaiki lereng Gunung Bromo. Dengan tarif antara Rp. 100.000,- s/d Rp. 150.000,- (tergantung kepandaian menawar) untuk satu orang pulang-pergi memberikan pengalaman yang seru dan mengasyikkan bagi yang belum pernah atau jarang naik kuda menaiki bukit atau lereng Gunung Bromo. Paling tidak mengirit tenaga sebelum dan setelah naik-turun tangga menuju kawah Gunung Bromo yang lumayan menguras tenaga.





Pemandangan lautan pasir dan Pura dari atas lereng Gunung Bromo. Dari lereng Gunung Bromo ini hamparan pasir yang mengitari Gunung Bromo dan Gunung Batok dapat dinikmati dengan leluasa. Demikian pula bagi para pengunjung yang menaiki lereng Gunung Bromo menuju kawah, baik yang berjalan kaki maupun yang naik kuda dapat dilihat dari atas sini. Di seberang lautan pasir nampak dari kejauhan pemukiman penduduk Desa Cemorolawang, Probolinggo yang sering dijadikan lokasi shooting Film Terlevisi (FTV).




Pemandangan dari bibir kawah Gunung Bromo dengan latar belakang Gunung Batok yang tepat berada di sebelah barat Gunung Bromo. Gunung Batok dengan belahan-belahan lerengnya yang terlihat jelas dan tersusun rapi karena tidak ditumbuhi pepohonan sehingga bagaikan melihat batok kelapa raksasa dilihat dari atas.










Kawah Gunung Bromo dengan kepulan asap belerang yang menyengat hidung. Ngeri tapi indah dan menakjubkan.








Hamparan Lautan pasir, tempat parkir mobil dengan latar belakang  pangkalan kuda dan lereng Gunung Bromo. Sebelum beranjak kembali ke penginapan, di Wonokitri, Pasuruan dan pulang ke Bangkalan - Madura.











































Hamparan Lautan pasir, tempat parkir mobil dan pangkalan kuda dengan latar belakang Gunung Batok. Sejenak melepaskan penat setelah turun dari kawah dan lereng Gunung Bromo. Mengabadikan momen-momen indah dengan latar belakang lautan pasir dan Gunung Batok yang mempesona. Kenangan yang amat indah, Kawan !!!

Sekembalinya di penginapan kami langsung berkemas-kemas dan meninggalkan penginapan setelah makan siang. Kami pulang lewat rute Wonokitri - Puspa - Tosari, Pasuruan. Pertimbangannya disamping menghindari rute keberangkatan kami yang 'cukup' mendebarkan juga dengan pertimbangan agar lebih cepat sampai di Bangkalan, Madura.

                                                                                                         Probolinggo, Awal Januari 2012.
                                                                                                         Keluarga Besar Juharto.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar