Bertamasya ke Sumatra Barat adalah perjalanan yang mengasyikkan ....
Mobil kami memasuki wilayah Provinsi Sumatra Barat lewat Kabupaten Dharmasraya sekitar jam 08.00 pagi. Kontras dengan perjalanan sepanjang Muarabungo sampai Lubuk Linggau yang kiri kanan jalan lebih banyak dikelilingi kebun kelapa sawit, maka pamandangan di wilayah Kabupaten Solok amat berbeda.
Di kiri dan kanan jalan yang dilatar belakangi oleh bebukitan yang sedap dipandang mata. Setelah melewati Kabupaten Sawahlunto, kami menuju Danau Singkarak lewat Solok. Tengah hari perjalanan kami mulai tersendat menemui kerumunan pengunjung Danau Singkarak. Demi mengejar waktu dan menghindari kemacetan maka kami putuskan untuk tidak masuk ke dalam area parkir danau yang dipadati pengunjung. Kami hanya memandangi dari dalam mobil berjubelnya pengunjung yang dalam suasana Hari Raya Fitri memang sangat ramai. Setelah menelusuri jalan yang menyuguhkan pemandangan hamparan danau di sebelah kiri dan bukit-bukit serta ladang penduduk di sebelah kanan, kami menemukan beberapa lokasi pinggir danau yang menyediakan tempat parkir mendadak dan tempat menikmati pinggir danau di sebelah rel kereta api.
Karena jalanan masih tersendat karena padatnya pengunjung meskipun tidak semacet tadi maka kami pun memutuskan rehat sejenak sekalian menikmati pemandangan danau yang kami kenal sebagai salah satu area balap sepeda yang bertaraf internasional, "Tour De Singkarak". Sekalian memberi kesempatan bagi Pak Sopir untuk beristirahat dan menikmati secangkir kopi di warung dadakan yang banyak dijumpai di sekitar tempat kami beristirahat.

Setelah sejenak menikmati indahnya danau Singkarak, kami pun meneruskan perjalanan yang rencananya menuju Bukittinggi dan sekalian mencari penginapan yang katanya hawanya sejuk seperti Bogor, di Jawa Barat. Namun perjalanan terus tersendat karena ramainya pengunjung danau maka setelah melewati daerah Simawang dan menemui pertigaan kami memutuskan potong kompas belok kanan menuju Batusangkar untuk menikmati kemegahan Istana Pagaruyung. Habis Shalat Ashar kami tiba di Komplek Istana yang menjadi ikon Rumah Adat Minangkabau ini.
Setelah puas menikmati megahnya Istana Pagaruyung, Batusangkar kami pun meneruskan perjalanan menuju Bukittinggi untuk mancari penginapan. Habis shalat Maghrib kami meninggalkan komplek istana. Sepanjang perjalanan dari Batusangkar menuju Bukittinggi tidak banyak pemandangan alam yang dapat kami nikmati karena selain kelelahan juga kegelapan malam tidak menarik untuk dinikmati kecuali suasana kehidupan malam sepanjang jalan. Sesampainya di Bukittinggi kami berputar-putar mencari hotel atau penginapan yang dekat dengan Jam Gadang. Semua penuh. Akhirnya kami cari hotel yang agak jauh dari Jam Gadang yang menjadi ikon Kota Bukittinggi. Dapatlah Hotel Pusako. Kami pun lelap dalam tidur. Tak sempat menikmati kehidupan malam Bukittinggi yang katanya cukup menarik untuk dinikmati. Terutama di sekitar Jam Gadang yang terkenal itu.
Setelah cek out dari hotel sekitar jam 08.00 pagi kami berangkat menuju Lembah Harau, Kabupaten Lima Puluh Koto. Perjalanan di siang hari menuju Lembah Harau disuguhi pemandangan Kota Payakumbu. Di sepanjang jalan kami temui rumah-rumah adat Minang. Termasuk juga di tengah-tengah kota, pemandangan langka yang jarang kami temui di Pulau Jawa.
Jalan Raya terus kami lalui ke arah timur yang sejalur dengan arah Pekanbaru, Provinsi Riau. Sebenarnya setelah Lembah Harau ada jalan dengan kelokan yang cukup terkenal, yaitu Kelok Sembilan. Tapi karena tujuan kami setelah dari Bukittinggi adalah menuju arah utara, yaitu Danau Toba, Sumatera Utara maka keinginan merasakan serunya Kelok Sembilan tidak kami penuhi. Akhirnya, setelah memakan waktu beberapa jam dari kejauhan pintu masuk menuju Lembah Harau kelihatan. Lembah yang kalau kita hampiri kelihatan dari atas kendaraan bukan kita yang mendatangi, melainkan bukit harau lah yang kelihatan "seperti bergerak" mendekati kita. Pengalaman yang unik dan baru kami alami.
Memasuki kawasan Lembah Harau, di kiri dan kanan jalan terlihat hamparan sawah dan empang-empang ikan, disamping terdapat beberapa rumah penduduk. Di kawasan ini ada beberapa air terjun, namun karena keterbatasan waktu maka kami hanya menikmati satu air terjun saja.




Selepas menikmati lembah Harau kami kembali ke Bukittinggi. Sampai di Kota Bukittinggi Habis shalat Ashar. Rencana kami akan masuk kota dan menikmati suasana kota Bukittinggi di malam hari karena sehari sebelumnya kami belum sempat menikmatinya karena keburu tertidur di hotel. Terutama Jam Gadang di waktu malam. Sekalian menginap dan esoknya menikmati ngarai Sianok serta Jam Gadang di siang hari. Namun, jalanan menuju kota Bukittinggi sangat padat sehingga kami memutuskan belok kanan meninggalkan Kota Bukittinggi menuju Danau Toba, Sumatera Utara.
Setelah menempuh perjalanan sore dan malam hari kami berhenti dan beristirahat sejenak di Monumen Khatulistiwa, Bonjol - Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Ada perasaan yang bergetar saat berada di tengah-tengah bola Bumi. Seumur-umur baru kali ini kami menginjakkan kaki di atas garis ekuator. Malam itu kami meneruskan perjalanan malam menuju Sumatera Utara dan memasuki wilayah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan esok harinya kami sampai di Padang Sidempuan, Sumatera Utara.
Sepulang dari Danau Toba, Sumtera Utara kami sampai di Monumen Khatulistiwa jam sekitar 10.00 siang hari. Jika beberapa hari sebelumnya kami meninggalkan Bukittinggi dan sampai di monumen ini pada malam hari maka kebalikannya sepulang dari Sumatera Utara kami tiba di tempat ini pada siang hari. Di Provinsi yang dikenal dengan kawasan muslim kami mendapati beberapa kelompok orang dengan mengendarai mobil pic up parkir dan menurunkan anjing-anjing yang akan berburu babi ke hutan atau kebun sekitar.
Habis shalat Dzuhur kami memasuki Kota Bukittinggi. Kami sengaja berbelok ke kanan mencari lokasi 'Panorama Baru' untuk menikmati Ngarai Sianok. Terenyata, di lokasi ini sepi pengunjung. Mungkin karena tempatnya yang sedikit 'minggir' dan agak jauh dari pusat kota.
Sesaat segera kami meninggalkan lokasi 'Panorama Baru' yang sepi tersebut menuju 'Panorama Ngarai Sianok' lama yang terkenal itu. Mengingat parkir mobil yang padat maka kami memutuskan parkir di Museum seberang Komplek Panorama Ngarai Sianok.
Ngarai Sianok merupakan komplek wisata yang di dalamnya terdapat 'Panorama' yang menjadi tempat untuk melihat pemandangan ngarai yang diseberang sana terdapat Kota Gadang. Di sebelah bawahnya terdapat gua bekas tentara Jepang, yang lebih dikenal dengan nama 'Goa Jepang'. Dengan pertimbangan menjaga stamina karena perjalanan masih panjang maka kami putuskan untuk tidak menelusuri Goa Jepang dan hanya asyik memandang ngarai Sianok dari 'Panorama Pandang'.
Setelah puas menikmati pemandangan Nagarai Sianok kami pun menuju Jam Gadang. Karena tempatnya tidak terlalu jauh maka kami berjalan kaki menuju areal Jam Gadang lewat gang-gang kecil di antara rumah penduduk dan jalan raya serta hotel. Sebuah menara yang di puncaknya terdapat jam besar pada keempat sisinya berdiri di tengah alun-alun kota. Alun-alun kota yang dikelilingi oleh gedung-gedung pasar, pusat perbelanjaan dan pusat bisnis menjadikan Jam Gadang sebagai sentral aktivitas kehidupan kota Bukuittinggi. Alun-alun yang selalu ramai, siang dan malam. Dengan udaranya yang sejuk menjadikan kota Bukittinggi sebagai tempat berwisata sekaligus beristirahat yang tak boleh dilewatkan.

Setelah puas minikmati suasana sore di areal Jam Gadang kami kembali ke komplek Ngarai Sianok tempat mobil kami parkir. Selepas shalat Maghrib kami meninggalkan kota Bukittinggi menuju kota Padang. Rencananya kami akan berhenti di areal Air Terjun atau Lembah Anai. Ternyata, pada malam hari suasana Lembah Anai tidak menarik untuk dinikmati karena gelapnya malam menyelimuti areal air terjun. Kami hanya berhenti sejenak dan meneruskan perjalanan menuju kota Padang. Sebelum memsuki kota Padang kami sekeluarga memutuskan untuk langsung pulang lewat Indarung dan meninggalkan Provinsi Sumatera Barat menuju Jakarta. Ada banyak tempat wisata yang belum kami kunjungi di Sumatera Barat. Kami masih ingin kembali lagi mendatangi beberapa tempat tersisisa yang belum kami kunjungi. Wahai Minang, .... tunggu kami. Lain waktu kami datang lagi. Insya Allah....
Sumatera Barat, 2012.
Juharto sekeluarga,
























































Tidak ada komentar:
Posting Komentar